Mahasiswa Ma’had Umsida Dalami Makna Allah Bersama Pakar Internasional

Mahad.umsida.ac.id — Mahasiswa Ma’had Umar bin Khattab Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) turut aktif dalam International Visiting Lecture bertema Understanding the Qur’an through Arabic: Strengthening Islamic Education in the Modern Era yang digelar Fakultas Agama Islam (FAI) Umsida pada Senin (25/5/2026).

Baca Juga: Domino Mufrodat Dorong Minat Belajar Bahasa Arab

Kegiatan yang berlangsung di KH Mas Mansyur Hall lantai 7 GKB 2 Kampus 1 Umsida tersebut menghadirkan Prof. Dr. Ahmad Muhammad At Toukhi, pakar internasional dalam bidang bahasa Arab dan studi Al-Qur’an. Dalam penyampaiannya, Prof. Ahmad didampingi penerjemah sehingga materi berbahasa Arab dapat dipahami dengan baik oleh peserta.

Salah satu momen menarik terjadi saat sesi tanya jawab. Seorang mahasiswa Ma’had Umsida, Rasyida Wazali, mendapat kesempatan menjawab pertanyaan dari Prof. Ahmad terkait makna kata Allah dalam bahasa Arab. Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk pembahasan lebih mendalam tentang pentingnya memahami Al-Qur’an melalui struktur dan akar kata bahasa Arab.

Mahasiswa Ma’had Tunjukkan Antusiasme Belajar Bahasa Arab

Dalam sesi interaktif tersebut, Prof. Ahmad menanyakan kepada peserta tentang makna kata Allah. Rasyida kemudian mencoba menjawab dengan mengaitkan kata Allah dengan bentuk Al-Ilah yang bermakna Tuhan yang disembah.

Jawaban tersebut mendapat apresiasi dari Prof. Ahmad. Namun, ia juga meluruskan dan memperluas penjelasan bahwa pemahaman terhadap kata Allah tidak cukup berhenti pada hafalan arti. Menurutnya, bahasa Arab memiliki kedalaman makna yang perlu dipahami melalui akar kata, susunan bahasa, dan konteks penggunaannya.

“Jawabannya bagus, tetapi belum tepat. Dengarkan baik-baik,” ujar Prof. Ahmad melalui penerjemah.

Dari pertanyaan dan jawaban tersebut, Prof. Ahmad kemudian menjelaskan bahwa kata Allah dapat dipahami melalui hubungan makna dengan Al-Ilah dan akar kata waliha. Ia menerangkan bahwa waliha memiliki makna mencintai atau menjadikan sesuatu sebagai hal yang dicintai.

Penjelasan ini membuat sesi kuliah menjadi lebih hidup. Peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga diajak berpikir dan menelusuri makna kata secara bertahap.

Dari Satu Pertanyaan Menuju Pemahaman Tauhid

Melalui pertanyaan yang diajukan dalam forum tersebut, Prof. Ahmad menegaskan bahwa bahasa Arab bukan hanya alat komunikasi, melainkan kunci untuk memahami pesan tauhid dalam Al-Qur’an. Ia menjelaskan bahwa mencintai Allah menjadi dasar seseorang untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya sembahan.

“Ketika saya mengatakan walihtu Allah, maknanya saya mencintai Allah. Rasa cinta itulah yang menjadikan seseorang mengikuti perintah-Nya,” jelasnya.

Ia kemudian memberi contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang menemukan barang yang bukan miliknya, ia tidak mengambil barang tersebut bukan sekadar karena takut, tetapi karena memahami bahwa Allah melarang perbuatan tersebut. Kesadaran itu muncul karena seseorang mencintai Allah dan menjadikan Allah sebagai sembahannya.

Menurut Prof. Ahmad, inilah perbedaan mendasar antara belajar bahasa Arab secara hafalan dan belajar bahasa Arab dengan pemahaman. Hafalan hanya membuat seseorang mampu mengingat kata, sedangkan pemahaman membuat seseorang mampu menangkap nilai, pesan, dan hikmah dari kata tersebut.

“Bahasa Arab bukan semata-mata hafalan. Bahasa Arab adalah pemahaman,” tegasnya.

Bagi mahasiswa Ma’had Umsida, pesan tersebut menjadi penguatan penting. Sebagai lembaga yang fokus pada pembelajaran bahasa Arab dan studi Islam, Ma’had tidak hanya menyiapkan mahasiswa agar mampu membaca teks Arab, tetapi juga memahami makna keislaman yang terkandung di dalamnya.

Penguatan Tradisi Ilmu di Ma’had Umsida

Keterlibatan mahasiswa Ma’had dalam sesi tanya jawab menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa Arab perlu dibangun secara aktif, dialogis, dan kritis. Mahasiswa tidak cukup menjadi pendengar, tetapi perlu berani bertanya, menjawab, dan menguji pemahamannya dalam forum akademik.

Kegiatan ini juga sejalan dengan semangat Ma’had Umar bin Khattab Umsida dalam memperkuat kemampuan bahasa Arab mahasiswa sebagai dasar memahami Al-Qur’an, hadis, dan khazanah keilmuan Islam. Melalui forum internasional ini, mahasiswa mendapat pengalaman langsung belajar dari pakar yang memiliki latar keilmuan luas di bidang bahasa Arab, tafsir Al-Qur’an, studi Islam, dan pengembangan metode pembelajaran.

Prof. Ahmad juga mengingatkan bahwa pelajar perlu memiliki target dalam belajar. Menurutnya, salah satu problem pelajar saat ini adalah menjalani pendidikan tanpa tujuan yang jelas. Karena itu, ia mendorong mahasiswa untuk menulis target hidup, baik jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang.

Pesan tersebut relevan bagi mahasiswa Ma’had Umsida yang sedang menempuh proses pembelajaran bahasa Arab dan studi Islam. Dengan target yang jelas, pembelajaran tidak berhenti pada kewajiban akademik, tetapi menjadi jalan untuk membangun kapasitas diri sebagai pembelajar Al-Qur’an.

Melalui keaktifan mahasiswa dalam forum tersebut, Ma’had Umsida menunjukkan komitmennya dalam menumbuhkan tradisi belajar yang tidak pasif. Mahasiswa didorong untuk memahami bahasa Arab secara mendalam, menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat kehidupan, serta membangun kecerdasan berpikir melalui bahasa wahyu.

Baca Juga: Hadirkan Pakar Internasional, FAI Umsida Gelar Kuliah Tamu Kuatkan Pemahaman Al-Qur’an

Kegiatan International Visiting Lecture ini diharapkan menjadi motivasi bagi mahasiswa Ma’had Umsida untuk semakin serius mempelajari bahasa Arab. Sebab, bahasa Arab bukan hanya bahasa akademik, tetapi juga jalan untuk memahami Al-Qur’an, memperkuat akidah, dan membangun karakter keislaman di era modern.

Penulis: Akhmad Hasbul Wafi