Metode Nakhlah Dinilai Efektif Bantu Santri Membaca Arab Gundul

Mahad.umsida.ac.id-Kemampuan membaca Arab gundul masih menjadi tantangan bagi banyak pelajar di lembaga pendidikan Islam.

Baca Juga: Think Pair Share Bantu Tingkatkan Hasil Belajar Bahasa Arab

Menjawab persoalan itu, sebuah penelitian yang ditulis Naylur Rohmatir Rosida dan Farikh Marzuki Ammar dari Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Sidoarjo menemukan bahwa metode Nakhlah memiliki hubungan kuat dengan kemampuan membaca Arab gundul santri kelas 7 di Pondok Pesantren Tarbiyatul Iman Malang. Studi ini terbit di Indonesian Journal of Islamic Studies pada 29 Agustus 2025.

Membaca Arab Gundul Masih Jadi Tantangan

Dalam dunia pendidikan Islam, kemampuan memahami bahasa Arab menjadi fondasi penting untuk mengakses Al-Qur’an, hadis, hingga kitab-kitab turats. Namun, praktik di lapangan menunjukkan bahwa membaca teks Arab tanpa harakat atau Arab gundul masih tidak mudah bagi santri, terutama karena mereka harus memahami nahwu dan shorof secara bersamaan.

Penelitian ini melihat persoalan tersebut secara lebih spesifik pada pembelajaran kitab Tafsir Muyassar di Pondok Pesantren Tarbiyatul Iman Malang. Subjek penelitian berjumlah 17 santri kelas 7 tahun ajaran 2023–2024. Peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik observasi, angket, dan tes, lalu menganalisis data melalui korelasi Pearson dan regresi linear sederhana.

Hasilnya menunjukkan bahwa respons siswa terhadap metode Nakhlah berada pada kategori cukup baik, dengan rata-rata persentase angket 70 persen. Sementara itu, nilai rata-rata kemampuan membaca Arab gundul mencapai 74, dengan skor tertinggi 98 dan terendah 45. Data ini menunjukkan bahwa metode tersebut diterima cukup positif oleh para santri dan berjalan dalam proses belajar yang terukur.

Belajar Nahwu Shorof dengan Lagu

Metode Nakhlah menjadi menarik karena menawarkan pendekatan yang berbeda dibanding pembelajaran nahwu-shorof konvensional. Dalam penelitian ini dijelaskan bahwa metode Nakhlah mengajarkan materi melalui lagu dan pengulangan, sehingga santri lebih mudah menghafal sekaligus memahami pola-pola dasar bahasa Arab. Pendekatan ini dipadukan dengan prinsip Quantum Learning, yaitu pembelajaran yang menekankan suasana menyenangkan agar daya ingat siswa meningkat.

Materi Nakhlah di pesantren tersebut diberikan selama satu bulan penuh pada awal tahun ajaran. Pembelajaran dibagi ke dalam dua tahap, yaitu Nakhlah 1 dan Nakhlah 2. Tahap awal berisi pengenalan kata dan kalimat dalam bahasa Arab, termasuk klasifikasi huruf, isim, dan fi’il. Tahap berikutnya masuk pada materi i’rab, mubtada, khabar, fa’il, maf’ul, hingga unsur lain yang berkaitan dengan struktur kalimat Arab. Semua itu disampaikan secara bertahap melalui nyanyian, pengulangan, serta praktik langsung pada ayat-ayat Al-Qur’an.

Cara ini membuat pembelajaran tidak berhenti pada hafalan teori. Santri juga dibimbing membaca ayat secara putus-putus untuk mengidentifikasi unsur kalimat, memberi tanda pada setiap bagian, lalu menerjemahkan dengan bantuan kamus mufradat. Pola seperti ini membuat pembelajaran terasa lebih aktif, konkret, dan dekat dengan praktik membaca kitab.

Korelasi Kuat dan Relevan untuk Pembelajaran Ma’had

Temuan terpenting dalam penelitian ini ialah adanya hubungan signifikan antara respons siswa terhadap metode Nakhlah dengan kemampuan membaca Arab gundul. Nilai signifikansi tercatat 0,004 atau lebih kecil dari 0,05, sedangkan koefisien korelasinya mencapai 0,655. Angka itu masuk kategori kuat. Bahkan, koefisien determinasi menunjukkan bahwa metode Nakhlah memberi kontribusi sebesar 42,9 persen terhadap kemampuan membaca Arab gundul santri.

Temuan ini penting bagi lingkungan Ma’had Umsida karena memperlihatkan bahwa inovasi metode belajar bahasa Arab tidak harus selalu rumit. Pembelajaran yang terstruktur, menyenangkan, dan dekat dengan praktik justru dapat menjadi pintu masuk yang efektif untuk memperkuat literasi keislaman mahasiswa maupun santri. Di tengah kebutuhan memahami kitab dan sumber-sumber Islam berbahasa Arab, metode seperti Nakhlah layak dibaca sebagai inspirasi pengembangan pembelajaran di lingkungan pendidikan Islam.

Baca Juga: Tak Lolos SNBP Bukan Akhir, FAI Umsida Buka Peluang Masuk Tanpa Tes

Lebih dari sekadar metode teknis, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan membaca Arab gundul sangat dipengaruhi oleh cara materi diajarkan. Ketika nahwu dan shorof dikemas secara lebih ramah, bertahap, dan mudah diingat, hambatan belajar dapat dikurangi. Karena itu, pembaruan metode seperti Nakhlah patut menjadi perhatian dalam penguatan kultur akademik bahasa Arab di pesantren maupun ma’had.

Sumber: Naylur Rohmatir Rosida dan Farikh Marzuki Ammar, Student Responses to the Nakhlah Method in Reading Arab Gundul, Indonesian Journal of Islamic Studies, Vol. 13 No. 3, terbit 29 Agustus 2025.