Mahad.umsida.ac.id- Pembelajaran maharah qiraah (keterampilan membaca teks Arab) di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo menjadi perhatian karena sekolah ini menggunakan Kitab Al Ashri sebagai sumber utama.
Baca Juga: Ma’had Umar bin Khattab Umsida Terima Kunjungan Benchmarking dari Ma’had Al Imam Malik UMP
Berdasarkan riset kualitatif deskriptif yang dilakukan Abdul Baqiy dan Khizanatul Hikmah melalui wawancara, observasi, serta dokumentasi di kelas X, XI, dan XII, ditemukan bahwa guru menyiapkan modul ajar terstruktur, mengombinasikan beberapa metode pembelajaran, serta menerapkan evaluasi formatif dan sumatif untuk memastikan capaian membaca siswa.
Perencanaan pembelajaran disusun berbasis modul ajar dan struktur kitab
Dalam tahap perencanaan, guru bahasa Arab menyiapkan modul ajar yang diselaraskan dengan struktur Kitab Al Ashri. Modul tersebut memuat tujuan pembelajaran, strategi, metode, sarana prasarana, serta target capaian siswa. Materi dipilih dari bab-bab tertentu yang relevan untuk level SMA, seperti tema pekerjaan, bilangan, dan konteks kelas, yang di dalamnya memuat mufrodat, muhadasah, risalah, serta teks bacaan.
Agar pemahaman siswa lebih cepat terbentuk, guru tidak hanya mengandalkan teks kitab. Media presentasi (PowerPoint) digunakan untuk menampilkan kosakata beserta gambar pendukung, sehingga makna kata tidak berhenti pada terjemahan, tetapi masuk ke pemahaman konteks. Di sisi lain, guru juga menambahkan teks pendamping (risalah atau maqalah) dari internet yang selaras dengan arah pembahasan di Kitab Al Ashri. Tujuannya jelas: siswa bukan sekadar membaca bunyi, tetapi meningkat pada pemahaman makna, struktur sederhana, dan kelancaran membaca teks Arab.
Pelaksanaan pembelajaran memadukan drill diskusi komunikatif dan media visual
Pada pelaksanaan di kelas, penelitian mencatat pembelajaran berlangsung sesuai jadwal sekolah (sekitar 1–2 jam), dengan kombinasi tiga pendekatan utama: drill, diskusi, dan komunikatif. Metode drill dipakai untuk penguatan hafalan dan ketahanan ingatan mufrodat melalui latihan berulang. Diskusi digunakan untuk membedah isi bacaan, mempertemukan pemahaman antarsiswa, dan melatih mereka merumuskan inti teks. Sementara itu, pendekatan komunikatif diterapkan melalui praktik dialog dari Kitab Al Ashri secara bergantian agar siswa berani menggunakan bahasa Arab sekaligus melatih qiraah.
Poin pentingnya: guru sengaja mengurangi ketergantungan pada metode tarjamah yang membuat siswa pasif menunggu arti dari guru. Sebagai gantinya, visual PPT, pengulangan terarah, dan diskusi membuat siswa “dipaksa” membangun pemahaman sendiri namun tetap dibimbing.
Untuk menjaga energi kelas dan mengurangi kejenuhan, guru menyisipkan game edukatif: menyusun kosakata dari huruf di PPT, kuis kelompok, hingga tantangan mengingat kembali mufrodat. Ada pula strategi tutor sebaya, di mana siswa yang lebih kuat membantu teman yang masih kesulitan sehingga kelas bergerak lebih inklusif dan kolaboratif.
Evaluasi dan faktor penghambat pendukung yang menentukan kemajuan siswa
Evaluasi pembelajaran dilakukan dalam dua lapis. Evaluasi sumatif dilaksanakan pada tengah dan akhir semester melalui ujian tertulis dan lisan untuk mengukur penguasaan kosakata, pemahaman isi teks, serta keterampilan membaca. Sementara evaluasi harian dilakukan di akhir pertemuan melalui post-test, kuis, pertanyaan lisan, dan evaluasi berbentuk permainan (seperti cerdas cermat). Pemberian poin tambahan bagi siswa yang tepat menjawab juga dicatat sebagai strategi penguatan motivasi.
Riset ini juga menegaskan dua hambatan utama. Pertama, perbedaan latar belakang siswa—terutama yang berasal dari sekolah non-Muhammadiyah—membuat sebagian siswa belum memiliki fondasi bahasa Arab, bahkan ada yang belum lancar membaca Al-Qur’an. Kedua, adanya “kesenjangan jalur” karena Kitab Al Ashri disusun berjenjang dari SD hingga SMA; siswa yang tidak melewati jenjang sebelumnya cenderung tertinggal pada konsep dasar seperti dhomir, isim, dan fi’il. Dampaknya, guru harus menambah strategi diferensiasi agar siswa tidak jatuh pada demotivasi.
Di sisi pendukung, penelitian mencatat program Team Baca Qur’an sebagai penguat fundamental siswa dalam mengenali huruf Arab, memperbaiki makhraj, dan membangun basis membaca. Salah satu temuan yang dikutip dalam riset menyebut ukuran kemahiran membaca bukan sekadar lancar, melainkan tepat makhraj dan intonasi. “Siswa bisa dikatakan mahir dalam maharah qira’ah apabila siswa menguasai dalam membaca dari makhorijul huruf sesuai dengan kalimat bahasa arab dengan benar dan dengan intonasi yang benar,” disebutkan dalam hasil wawancara yang dirangkum peneliti.
Kesimpulannya, pembelajaran maharah qiraah berbasis Kitab Al Ashri di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo berjalan cukup efektif karena guru menyiapkan modul ajar sistematis, memadukan drill-diskusi-komunikatif, mengoptimalkan media visual, serta menutup tantangan latar belakang siswa lewat program penguatan dan pembelajaran yang lebih menyenangkan.
Baca Juga: Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H pada 18 Februari 2026 Ini Penjelasannya
Temuan ini memberi pelajaran praktis: keberhasilan qiraah tidak cukup dengan “buku yang bagus”, tetapi ditentukan oleh desain pembelajaran, ritme latihan, kualitas evaluasi, dan strategi menghadapi keragaman kemampuan siswa.
Sumber: Abdul Baqiy & Khizanatul Hikmah, Maharah Qiraah Learning Practices Using Al Ashri Book: Amalan Belajar Maharah Qiraah Menggunakan Kitab Al Ashri, Academia Open Vol. 10 No. 2 (2025).










