Mahad.umsida.ac.id– Kemampuan berbicara bahasa Arab atau maharah kalam masih menjadi tantangan dalam pembelajaran di tingkat madrasah tsanawiyah di Sidoarjo.
Baca Juga: Muhadatsah Jadi Kunci Mengasah Keberanian Berbahasa Arab
Temuan itu terlihat dalam penelitian yang dilakukan di MTs Al-Abror Sidoarjo, yang menunjukkan bahwa meski pembelajaran telah berjalan terstruktur, sebagian siswa masih mengalami kesulitan dalam melafalkan, memahami, dan menggunakan bahasa Arab secara aktif.
Penelitian tersebut menegaskan bahwa maharah kalam merupakan salah satu keterampilan penting dalam pembelajaran bahasa Arab, selain menyimak, membaca, dan menulis. Keterampilan ini berperan besar dalam membentuk kemampuan siswa untuk berkomunikasi dengan baik dan dapat diterima secara sosial. Karena itu, latihan berbicara tidak cukup hanya melalui teori, tetapi perlu dibiasakan melalui percakapan, diskusi, maupun praktik langsung di kelas.
Di tengah pentingnya keterampilan tersebut, realitas di lapangan menunjukkan tidak semua siswa memiliki kesiapan dasar yang sama. Perbedaan latar belakang pendidikan menjadi salah satu faktor utama. Sebagian siswa telah memiliki pengalaman belajar bahasa Arab sejak MI, namun sebagian lainnya baru mulai mengenalnya ketika masuk MTs. Ketimpangan inilah yang membuat hasil pembelajaran berbicara bahasa Arab belum merata di kelas.
Pembelajaran Sudah Terstruktur tetapi Hasil Belum Merata
Dalam penelitian itu dijelaskan bahwa pembelajaran maharah kalam di MTs Al-Abror Sidoarjo berlangsung melalui tiga tahap utama, yakni perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Guru menyusun perangkat pembelajaran seperti RPP, silabus, serta menyiapkan media pendukung agar proses belajar berjalan sistematis dan terarah. Langkah ini menjadi fondasi penting agar tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan lebih jelas.
Pada tahap pelaksanaan, pembelajaran bahasa Arab dijalankan selama tiga jam pelajaran dalam satu pekan. Guru memulai pembelajaran dengan pembukaan, doa bersama, mengulas materi sebelumnya, lalu masuk pada materi baru. Untuk melatih keterampilan berbicara, siswa diminta berlatih secara berpasangan atau berkelompok menggunakan percakapan dari buku paket. Guru kemudian memberikan contoh pelafalan dan intonasi yang benar sebelum siswa mempraktikkannya di depan kelas.
Media yang digunakan dalam pembelajaran meliputi buku paket bahasa Arab dan presentasi powerpoint. Namun, respons siswa masih beragam. Siswa yang telah memiliki dasar bahasa Arab cenderung lebih antusias dan lebih mudah mengikuti pembelajaran. Sebaliknya, siswa yang belum pernah belajar bahasa Arab sebelumnya masih mengalami kesulitan dalam membaca maupun mengucapkan kalimat berbahasa Arab. Kondisi ini menunjukkan bahwa kualitas proses pembelajaran saja belum cukup jika tidak diimbangi penguatan dasar kemampuan siswa.
Perbedaan Latar Belakang dan Minimnya Dukungan Jadi Kendala
Penelitian itu juga menemukan bahwa hambatan dalam maharah kalam tidak hanya berasal dari aspek bahasa, tetapi juga dari faktor nonbahasa. Dari sisi linguistik, siswa masih kesulitan pada tata bunyi, kosakata, dan tata kalimat. Beberapa siswa mengalami hambatan saat melafalkan huruf hijaiyah yang bunyinya mirip, seperti tsa’ dan sin. Bahkan, ada pula siswa yang belum mengenal huruf hijaiyah dengan baik. Seorang siswa dalam penelitian itu mengaku kesulitan berbicara bahasa Arab karena belum hafal banyak kosakata dan belum pernah belajar bahasa Arab sebelumnya.
Dari sisi nonlinguistik, faktor lingkungan belajar, minat, motivasi, hingga dukungan orang tua juga ikut berpengaruh. Guru bahasa Arab dalam penelitian tersebut menyebut bahwa tidak semua siswa memiliki pengalaman belajar bahasa Arab sejak dini. Selain itu, sebagian siswa juga tidak mengikuti TPQ secara memadai, sehingga kemampuan dasar membaca huruf hijaiyah pun masih lemah. Situasi ini diperparah dengan rendahnya minat belajar sebagian siswa dan kurangnya pendampingan orang tua di rumah.
Temuan ini penting dibaca lebih luas sebagai gambaran tantangan pendidikan keagamaan di daerah, khususnya dalam penguatan kompetensi bahasa Arab di kalangan siswa madrasah. Sebab, persoalan yang muncul di satu sekolah sangat mungkin juga ditemukan di lembaga pendidikan lain dengan karakteristik peserta didik yang serupa.
BTQ dan Latihan Praktik Jadi Solusi Penguatan
Sebagai langkah mengatasi kesulitan tersebut, MTs Al-Abror Sidoarjo menjalankan program BTQ atau Baca Tulis Qur’an di luar jam pembelajaran reguler. Kegiatan ini bersifat wajib dan dilaksanakan setiap Sabtu setelah pembelajaran selesai. Pada awal semester, siswa terlebih dahulu mengikuti tes untuk memetakan kemampuan, lalu dibagi ke dalam tiga kelompok, yakni dasar, menengah, dan atas. Pembagian ini dinilai membantu karena siswa mendapat pendampingan sesuai tingkat kemampuannya masing-masing.
Selain BTQ, peneliti juga merekomendasikan agar pembelajaran maharah kalam lebih banyak memberi ruang praktik bagi siswa, seperti melalui drama, pidato, story telling, dan role playing. Rekomendasi ini cukup masuk akal karena kemampuan berbicara tidak akan berkembang tanpa latihan rutin dan suasana belajar yang mendorong siswa aktif.
Baca Juga: Prof Jaenuri Jelaskan Filosofi Kupat di Bulan Syawal
Bagi dunia pendidikan di Sidoarjo, hasil penelitian ini menjadi pengingat bahwa pembelajaran bahasa Arab, terutama keterampilan berbicara, memerlukan pendekatan yang lebih menyeluruh. Sekolah tidak cukup hanya menyiapkan materi dan jam pelajaran, tetapi juga perlu memperkuat dasar siswa, membangun minat belajar, serta melibatkan dukungan keluarga agar hasil pembelajaran lebih optimal.
Sumber: Artikel penelitian Analisis Kesulitan Pembelajaran Maharah Kalam Siswa Kelas VIII Madrasah Tsanawiyah Al-Abror Sidoarjo.










